![]() |
| Penulis : Muh. Khoirul Azzam (Kader IMM Kota Makassar) |
Dampak krisis ekologis semakin terasa pada kelompok masyarakat rentan yang paling bergantung pada sumber daya alam. Petani, nelayan, dan masyarakat pesisir menghadapi penurunan produktivitas akibat perubahan iklim dan pencemaran lingkungan. Ketimpangan ini menunjukkan bahwa kerusakan alam tidak hanya merusak ekosistem, tetapi juga memperlebar kesenjangan sosial. Oleh karena itu, penyelamatan lingkungan menjadi bagian dari upaya mewujudkan keadilan sosial dan kesejahteraan bersama.
Menjaga alam merupakan tanggung jawab moral, sosial, dan spiritual setiap individu, termasuk kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Melalui nilai religiusitas, intelektualitas, dan humanitas, kader IMM dapat menjadi teladan dalam menyebarkan kesadaran ekologis. Peran tersebut dapat diwujudkan melalui aksi nyata seperti penghijauan, pengelolaan sampah, dan edukasi masyarakat. Kesadaran ekologis ini tidak hanya melindungi lingkungan, tetapi juga memperkuat karakter kader sebagai agen perubahan.
Gerakan ekologis yang digagas kader IMM perlu dibangun secara sistematis dan berkelanjutan agar memberi dampak nyata. Kolaborasi dengan masyarakat, pemerintah, dan lembaga pendidikan menjadi langkah strategis dalam memperluas jangkauan gerakan. Pendekatan berbasis komunitas mampu menumbuhkan rasa kepemilikan bersama terhadap lingkungan. Dengan demikian, gerakan ekologis tidak berhenti pada simbol, tetapi menjadi budaya kolektif yang mengakar.
Dengan komitmen dan konsistensi, kader IMM mampu mengintegrasikan kepedulian lingkungan dengan nilai moral dan spiritual. Kepedulian tersebut dapat menjadi bagian dari identitas kolektif gerakan serta warisan berharga bagi generasi mendatang. Menjaga alam bukan sekadar kewajiban praktis, melainkan misi moral yang menegaskan manusia sebagai khalifah yang bertanggung jawab. Dari kesadaran inilah lahir harapan akan bumi yang lestari dan peradaban yang berkeadilan.
