Ecoteologi dalam Perspektif Islam Berkemajuan: Rekonstruksi Kesadaran Kader IMM Menjawab Krisis Ekologis

 
Kamlia (Kader IMM Kota Makassar)

Makassar – Krisis ekologis di Indonesia kian mengkhawatirkan. Banjir, longsor, pencemaran sungai, kerusakan hutan, hingga dampak krisis iklim terjadi di berbagai daerah. Dalam beberapa waktu terakhir, banjir besar melanda sejumlah wilayah di Sumatera yang salah satunya dipicu oleh deforestasi dan alih fungsi hutan secara masif. Hutan yang semestinya menjadi penyangga keseimbangan alam justru dibuka tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjangnya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan lingkungan bukan sekadar masalah teknis, melainkan berkaitan erat dengan cara pandang manusia terhadap alam. Pembangunan sering dimaknai sebagai pertumbuhan ekonomi semata, sementara aspek keberlanjutan dan etika ekologis kerap terabaikan. Alam diposisikan sebagai objek eksploitasi, bukan sebagai amanah yang harus dijaga. Di sinilah pendekatan moral dan spiritual menjadi penting, termasuk melalui perspektif ekoteologi dalam Islam Berkemajuan.

Ekoteologi dan Tanggung Jawab Khalifah

Ekoteologi memandang relasi manusia dan alam dalam kerangka keimanan. Dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 30, manusia disebut sebagai khalifah fil ardh, yakni pemegang amanah untuk menjaga dan mengelola bumi. Kedudukan tersebut bukan legitimasi untuk mengeksploitasi, melainkan mandat untuk merawat keseimbangan dan kelestarian alam.

Islam Berkemajuan menegaskan bahwa ajaran Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga dengan sesama dan dengan lingkungan. Pada tahun 2024, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir menjelaskan bahwa Islam Berkemajuan menempatkan nilai moral, keadilan, dan tanggung jawab sosial sebagai fondasi membangun peradaban. Kemajuan tidak boleh diukur hanya dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari keberlanjutan dan keberadaban kehidupan.

Krisis Ekologis dan Tantangan Etika

Kerusakan lingkungan yang terjadi hari ini merefleksikan krisis etika dalam pembangunan. Mantan Menteri Lingkungan Hidup Indonesia, Alexander Sonny Keraf menyebut persoalan lingkungan berakar pada kegagalan membangun etika ekologis. Orientasi pembangunan yang eksploitatif dan mengabaikan keberlanjutan memperparah relasi yang tidak adil dalam pengelolaan sumber daya alam.

Dalam perspektif Islam Berkemajuan, kondisi ini menunjukkan bahwa nilai agama tidak cukup dipahami sebatas ritual, tetapi harus diwujudkan dalam tanggung jawab sosial dan ekologis. Ekoteologi menjadi kerangka penting untuk membangun kembali kesadaran tersebut.

Peran Strategis Kader IMM

Sebagai organisasi mahasiswa Islam, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) memiliki peran strategis dalam merekonstruksi kesadaran ekologis berbasis nilai keislaman. Kader IMM dapat memulai dari ruang-ruang intelektual melalui kajian dan diskusi yang mengaitkan konsep khalifah dengan persoalan konkret di lingkungan kampus, seperti pengelolaan sampah dan pengurangan plastik sekali pakai.

Selain itu, budaya organisasi yang ramah lingkungan perlu dibangun, seperti membiasakan penggunaan botol minum pribadi, meminimalkan penggunaan kertas, serta menerapkan pemilahan sampah dalam setiap kegiatan. Langkah-langkah sederhana ini merupakan bentuk praksis Islam Berkemajuan yang mengintegrasikan gagasan dan tindakan.

Kolaborasi dengan lembaga kemahasiswaan dan pihak kampus juga dapat dilakukan melalui program penanaman pohon, edukasi pengurangan sampah, dan kampanye kesadaran lingkungan berbasis nilai keislaman. Upaya tersebut menunjukkan bahwa kader IMM tidak hanya menjadi pengamat krisis ekologis, tetapi tampil sebagai pelaku perubahan.

Meneguhkan Kesadaran Berkemajuan

Krisis ekologis di Indonesia menuntut respons yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga berbasis nilai. Ekoteologi dalam perspektif Islam Berkemajuan menawarkan kerangka untuk membangun relasi manusia dan alam secara lebih adil dan bertanggung jawab.

Dengan menghidupkan nilai-nilai khalifah fil ardh dalam gerakan intelektual dan praksis sosial, kader IMM diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang menghadirkan kemajuan berkeadaban dan berkelanjutan di tengah masyarakat.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama