Krisis Ekologis sebagai Cerminan Krisis Moral dan Spiritual Bangsa


Penulis : Nur 'Aini (Kader IMM Kota Makassar)

Makassar – Problematika lingkungan di Indonesia menunjukkan kompleksitas yang kian meningkat. Sampah plastik, pencemaran udara dan air, serta penggundulan hutan menjadi indikator krisis ekologis yang terus berulang. Berbagai regulasi telah diterapkan, namun kerusakan tetap terjadi di banyak wilayah. Kondisi ini menegaskan bahwa penyelesaian krisis tidak cukup melalui pendekatan teknis semata, tetapi memerlukan pembenahan kesadaran moral dan spiritual.

Krisis lingkungan sejatinya berkelindan dengan krisis nilai. Ketika alam diperlakukan sebagai instrumen ekonomi, orientasi etis terhadap keberlanjutan pun terpinggirkan. Pembaruan moral dan spiritual harus menjadi agenda kolektif dalam kebijakan dan pembangunan. Bangsa ini membutuhkan kepemimpinan berkarakter yang menjunjung amanah, keadilan, dan kepekaan nurani dalam setiap keputusan.

Al-Qur’an melalui QS. Ar-Rum ayat 41 menegaskan bahwa kerusakan di darat dan laut merupakan akibat perbuatan manusia. Ayat ini menunjukkan bahwa krisis ekologis bukan peristiwa tanpa sebab, melainkan konsekuensi dari pilihan hidup yang abai terhadap nilai. Jalan keluar tidak cukup melalui kebijakan formal semata. Pemulihan kesadaran moral dan penguatan spiritual menjadi fondasi untuk mengembalikan peran manusia sebagai penjaga bumi.

Ekoteologi sebagai Penguatan Moral dan Perubahan Sosial

Integrasi ekoteologi menjadi kebutuhan mendesak dalam memperkuat moral dan spiritual bangsa. Ekoteologi menegaskan bahwa relasi manusia dengan alam tidak terpisah dari hubungannya dengan Tuhan. Alam bukan sekadar sumber daya ekonomi, tetapi ciptaan yang harus dijaga keseimbangannya. Penguatan nilai keadilan, tanggung jawab, dan kasih sayang menjadi fondasi etika lingkungan berkelanjutan.

Sebagai khalifah di bumi, manusia memikul amanah untuk memakmurkan dan merawat alam. Kesadaran ini menuntut tanggung jawab moral dan spiritual dalam setiap tindakan. Revitalisasi spiritual tidak boleh berhenti pada ritual, tetapi tercermin dalam sikap bijak terhadap lingkungan. Kesadaran ekologis berbasis iman akan mendorong pembangunan yang adil dan berkelanjutan.

Pemikiran tokoh agama kontemporer menguatkan pentingnya integrasi ekoteologi. Prof. M. Quraish Shihab menegaskan bahwa alam merupakan ayat-ayat kauniyah yang harus direnungi dan dijaga. Kerusakan lingkungan mencerminkan krisis akhlak dan ketidakseimbangan spiritual manusia. Menjaga alam karenanya menjadi bagian dari tanggung jawab keagamaan. Kesadaran ini perlu diarusutamakan dalam kehidupan berbangsa.

Revitalisasi moral dan spiritual harus dimulai dari pembaruan cara pandang keagamaan yang kontekstual. Dakwah dan pendidikan perlu menegaskan bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari iman dan akhlak mulia. Spiritualitas tidak hanya tercermin dalam kesalehan ritual, tetapi juga tanggung jawab sosial. Pendekatan ini diharapkan melahirkan generasi yang saleh sekaligus sadar lingkungan.

Mahasiswa memiliki posisi strategis dalam mengarusutamakan integrasi ekoteologi di ruang publik. Mereka bukan hanya agen perubahan sosial, tetapi juga penjaga nilai moral bangsa. Dalam konteks ini, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) memikul tanggung jawab ideologis menghadirkan dakwah transformatif. Gerakan mahasiswa dapat menjadi motor perubahan berkelanjutan di tengah krisis ekologis.

Melalui kajian, aksi sosial, advokasi kebijakan, dan gerakan komunitas, IMM dapat mengintegrasikan nilai ekoteologi dalam praksisnya. Kesadaran ekologis tidak lagi dipandang sebagai isu pinggiran. Revitalisasi moral dan spiritual harus menjelma menjadi gerakan kolektif yang terorganisir. Integrasi ekoteologi menjadi jembatan antara iman, ilmu, dan aksi nyata.

Meneguhkan Iman untuk Peradaban Berkelanjutan

Integrasi ekoteologi merupakan ajakan meneguhkan iman sebagai landasan membangun peradaban. Kerusakan hutan, krisis air, dan persoalan sampah mencerminkan melemahnya kesadaran manusia atas amanah kekhalifahan. Kesalehan tidak cukup dimaknai sebagai ritual, tetapi harus diwujudkan dalam tanggung jawab menjaga bumi. Dari kesadaran inilah lahir generasi berintegritas yang menghadirkan masa depan berkeadilan dan berkelanjutan.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama