![]() |
| Penulis : Almaida ( Kader IMM Kota Makassar) |
Makassar – Indonesia sebagai negara yang dianugerahi sumber daya alam melimpah tengah menghadapi tantangan serius dalam pembangunan nasional, khususnya terkait krisis lingkungan hidup. Deforestasi, pencemaran air dan udara, dampak perubahan iklim, serta meningkatnya bencana ekologis menunjukkan bahwa model pembangunan belum sepenuhnya mengedepankan prinsip keberlanjutan. Kondisi ini tidak hanya mencerminkan persoalan ekologis, tetapi juga krisis nilai dan moral dalam memperlakukan alam. Oleh karena itu, dibutuhkan paradigma pembangunan alternatif yang tidak semata teknokratis, melainkan berlandaskan nilai spiritual dan kemanusiaan.
Dalam konteks tersebut, paradigma ekoteologis hadir sebagai pendekatan yang mengintegrasikan iman dengan kepedulian terhadap lingkungan. Ekoteologi memandang alam bukan sebagai objek eksploitasi, melainkan bagian dari ciptaan Tuhan yang memiliki nilai sakral dan harus dihormati. Pandangan ini menegaskan bahwa menjaga kelestarian lingkungan merupakan bagian tak terpisahkan dari pengamalan ajaran agama. Dengan demikian, kepedulian ekologis menjadi manifestasi keimanan yang diwujudkan dalam tindakan nyata.
Dalam perspektif Islam, manusia diposisikan sebagai khalifah di bumi yang memikul amanah untuk menjaga keseimbangan alam. Alam bukan sekadar sumber daya, tetapi ciptaan Allah yang memiliki nilai intrinsik dan harus dijaga keberlanjutannya. Merusak lingkungan berarti mengingkari amanah Ilahi dan mengabaikan tanggung jawab moral sebagai pengelola bumi. Perspektif ekoteologis menegaskan bahwa perlindungan lingkungan merupakan bagian dari implementasi iman dalam kehidupan sosial.
Dalam konteks Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), paradigma ekoteologis selaras dengan trilogi nilai keislaman, keilmuan, dan kemanusiaan. Nilai keislaman menjadi landasan moral dalam menumbuhkan kesadaran ekologis dan tanggung jawab terhadap alam. Konsep tauhid tidak hanya dimaknai sebagai praktik ritual, tetapi juga diwujudkan melalui sikap etis dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Kesadaran ini mendorong kader IMM memandang pelestarian alam sebagai bagian dari ibadah dan tanggung jawab moral.
Nilai keilmuan berperan sebagai instrumen analisis dan solusi atas berbagai persoalan lingkungan yang semakin kompleks. Permasalahan ekologis tidak cukup ditangani melalui imbauan moral, tetapi memerlukan pendekatan ilmiah berbasis riset dan data yang akurat. Sebagai gerakan mahasiswa, IMM memiliki peran strategis dalam mengembangkan kajian ekoteologi, membangun diskursus kritis, serta mendorong inovasi dan advokasi kebijakan publik yang berorientasi pada keberlanjutan. Melalui pendekatan keilmuan, kader IMM dapat berkontribusi nyata dalam pembangunan bangsa yang berkelanjutan.
Di sisi lain, nilai kemanusiaan menegaskan bahwa krisis lingkungan paling berdampak pada kelompok masyarakat rentan. Degradasi lingkungan sering memperdalam ketimpangan sosial dan memicu ketidakadilan ekologis yang merugikan masyarakat kecil. Oleh karena itu, IMM diharapkan hadir sebagai gerakan yang memperjuangkan keadilan sosial sekaligus keadilan ekologis. Implementasi ekoteologi tidak hanya berfokus pada pelestarian alam, tetapi juga pada perlindungan martabat dan kesejahteraan manusia.
Paradigma ekoteologis menawarkan perspektif alternatif dalam pembangunan bangsa dengan memadukan dimensi spiritual, intelektual, dan sosial secara utuh. Persoalan lingkungan di Indonesia tidak dapat diselesaikan hanya melalui pendekatan teknis dan ekonomi, tetapi memerlukan perubahan nilai dan kesadaran kolektif manusia. IMM, melalui nilai keislaman, keilmuan, dan kemanusiaan, memiliki posisi strategis dalam menginternalisasi dan mengimplementasikan paradigma ini. Peran tersebut penting dalam membangun bangsa yang berkeadaban, berkeadilan, dan berkelanjutan.
Dengan demikian, implementasi ekoteologi dalam gerakan IMM diharapkan mampu berkontribusi nyata dalam pembangunan nasional yang berorientasi pada keberlanjutan. Pelestarian lingkungan bukan sekadar agenda tambahan, melainkan bagian integral dari visi perjuangan IMM dalam mewujudkan masyarakat yang seimbang antara kemajuan pembangunan, kelestarian alam, dan nilai-nilai kemanusiaan. Upaya ini menjadi fondasi penting bagi terciptanya masa depan bangsa yang adil, lestari, dan bermartabat.
