Manifesto Mandataris Bumi: Mengintegrasikan Etika Ekoteologis dalam Rekonstruksi Kebijakan Pembangunan Nasional

Penulis : Muhammad Zaky Ramadhan (Kader IMM Kota Makassar)

Makassar – Penataan Indonesia di masa depan tidak boleh lagi hanya bertumpu pada pembangunan fisik-teknokratis yang mengabaikan daya dukung lingkungan. Realitas sejarah kontemporer menunjukkan bahwa relasi manusia dengan alam di Indonesia berada pada titik yang mengkhawatirkan akibat dominasi paradigma antroposentrisme. Modernitas yang hanya bertumpu pada rasionalitas instrumental telah mereduksi alam menjadi sekadar objek eksploitasi demi pertumbuhan ekonomi jangka pendek dan kepentingan segelintir pihak. Kondisi ini menuntut adanya sebuah integrasi nilai ecoteologis sebagai landasan penting untuk mengarahkan kembali orientasi pembangunan agar mampu menjawab problematika krisis iklim dan bencana ekologis secara komprehensif. Sebagai gerakan intelektual, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) memikul tanggung jawab untuk merumuskan paradigma kader yang tidak terjebak pada dikotomi antara iman dan realitas sosial.  

Akar Teologis Krisis Lingkungan

Krisis ekologis yang dialami bangsa ini sejatinya merupakan manifestasi dari krisis spiritual dan moral manusia modern. Al-Qur'an secara eksplisit menegaskan dalam QS. Ar-Rūm: 41 bahwa kerusakan di darat dan di laut adalah akibat dari penyimpangan tangan manusia dari nilai-nilai ketuhanan. Di sinilah letak pentingnya dekonstruksi makna khalifah fil ardh (QS. Al-Baqarah: 30). Secara etimologis, khalifah bermakna "wakil" atau "penerus", yang mengindikasikan bahwa manusia bukanlah pemilik absolut atas bumi. Manusia hanyalah mandataris yang diutus untuk menjaga tatanan kosmik sesuai dengan kehendak Pemberi Mandat, yaitu Allah SWT. Ketika kebijakan pembangunan nasional hanya mengejar angka pertumbuhan tanpa mempertimbangkan dimensi etis, maka pada saat itulah pengkhianatan terhadap amanah kekhalifahan sedang terjadi. 

Gugatan Terhadap Pembangunan Antroposentris

Penyusunan kebijakan publik di Indonesia saat ini sering kali kehilangan dimensi etis karena terlalu fokus pada pendekatan teknokratis. Sebagaimana pandangan ekoteologis, alam harus dipandang bukan sekadar sumber daya, melainkan bagian dari tatanan moral yang harus dihormati. Praktik pembangunan yang berorientasi pada keuntungan jangka pendek sering kali mengabaikan daya dukung lingkungan, yang dampaknya tidak hanya merusak ekosistem tetapi juga meningkatkan risiko bencana dan ketimpangan sosial. Integrasi ekoteologis menuntut agar kebijakan pembangunan nasional diletakkan di atas prinsip mizan (keseimbangan) dan keadilan ekologis. Instrumen kebijakan seperti Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) harus dipahami sebagai instrumen teologis untuk mencegah fasad (kerusakan) di muka bumi.  

Praksis Ekologis Gerakan IMM

Bagi kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), integrasi ekoteologis merupakan medan praksis ideologis yang menuntut perubahan cara pandang terhadap alam sebagai ayat-ayat kauniyah yang sakral. Dalam realitas anthropocene, manusia adalah aktor utama kerusakan ekologis sehingga kesadaran gerakan ekologi harus diwujudkan dalam tindakan nyata oleh seluruh kader ikatan. Peran strategis IMM adalah menjadi agen perubahan yang mampu melakukan intervensi sosial melalui edukasi lingkungan dan advokasi kebijakan kritis. Pemimpin yang dicetak oleh IMM harus memiliki kesadaran ekologis yang berlandaskan nilai ketuhanan. Hal ini bertujuan agar setiap keputusan yang diambil berpihak pada keberlanjutan lingkungan dan keadilan sosial bagi seluruh makhluk.  

Menata Indonesia adalah kerja peradaban yang meniscayakan penyatuan antara nilai teologis dan kesadaran ekologis sebagai fondasi respons krisis lingkungan. Pembangunan yang beradab tidak lagi diukur dari sekadar angka-angka pertumbuhan, melainkan sejauh mana nilai-nilai Islam Berkemajuan yang menekankan keadilan dan keseimbangan menjadi ruh dalam setiap regulasi. Kader IMM memiliki tugas historis untuk memastikan bahwa kemajuan bangsa tidak diraih dengan mengkhianati alam, melainkan dengan memuliakannya sebagai amanah Ilahi bagi generasi masa depan. Hanya dengan cara inilah, kepemimpinan manusia di bumi benar-benar menghadirkan kemaslahatan yang berkelanjutan bagi semesta alam.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama