![]() |
| Penulis : Adzani Ayu Maharani (Kader IMM Kota Makassar) |
Makassar – Krisis ekologi tidak lagi sekadar isu ilmiah di forum internasional, melainkan realitas yang mengancam keberlangsungan hidup manusia. Pemanasan global, deforestasi, dan polusi menjadi alarm keras bagi penghuni bumi. Dalam perspektif Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), persoalan lingkungan bukan hanya teknis, tetapi juga teologis.
Islam Berkemajuan dituntut menghadirkan jawaban melalui paradigma ekoteologi yang menyatukan iman dan tanggung jawab ekologis. Pertanyaan mendasar pun muncul: apakah iman cukup ditunjukkan melalui ibadah pribadi, atau harus tercermin dalam cara manusia menjaga bumi? Realitas menunjukkan banyak orang rajin beribadah, tetapi masih mengabaikan kebersihan dan kelestarian lingkungan.
Pemikir Muslim Seyyed Hossein Nasr menyebut krisis lingkungan sebagai krisis spiritual manusia modern. Solusi ekologis tidak cukup mengandalkan teknologi, tetapi membutuhkan kesadaran iman yang memandang alam sebagai amanah Tuhan. Kesadaran ini tampak dalam pengalaman seorang mahasiswa yang aktif berorganisasi di kampus. Ia rajin mengikuti kajian keislaman, namun menyaksikan sampah berserakan di kelas dan selokan kampus tersumbat limbah. Pengalaman tersebut memunculkan pertanyaan tentang makna iman di tengah lingkungan yang rusak. Paradoks pun terlihat: ibadah ramai dilakukan, tetapi kepedulian ekologis masih sunyi.
Dalam kerangka Islam Berkemajuan, IMM memiliki tanggung jawab menyatukan iman, ilmu, dan aksi kemanusiaan. Gerakan mahasiswa tidak cukup berhenti pada kesalehan personal atau capaian akademik semata. Nilai profetik seperti amanah menjaga bumi dan keadilan terhadap makhluk harus diwujudkan dalam aksi nyata.
Ekoteologi hadir sebagai jembatan transformasi yang mengarahkan gerakan menuju perubahan sosial dan ekologis. Islam memandang manusia sebagai khalifah di bumi yang bertugas menjaga keseimbangan alam. Al-Qur’an menegaskan mandat tersebut dalam Al-Qur'an (QS. Al-Baqarah: 30). Rasulullah ﷺ juga mengajarkan bahwa menanam pohon yang bermanfaat bagi makhluk lain bernilai sedekah.
Ajaran ini menegaskan bahwa merawat lingkungan merupakan bagian dari ibadah dan tanggung jawab spiritual. IMM memiliki modal intelektual, spiritual, dan humanitas untuk merespons krisis lingkungan. Aksi sederhana seperti membawa tumbler, memilah sampah, dan menanam pohon dapat memicu perubahan luas. Budaya kampus yang peduli lingkungan mampu mengubah paradoks “banyak bicara, sedikit bergerak” menjadi aksi nyata. Gerakan hijau yang konsisten akan memperkuat kesadaran ekologis di kalangan mahasiswa dan masyarakat.
Islam Berkemajuan mengajarkan bahwa kehadiran manusia harus memberi manfaat bagi seluruh alam. Kader IMM dapat memperkuat kajian ekoteologi, mengelola sampah, dan mengedukasi masyarakat tentang lingkungan.Ketika iman bertemu aksi, perubahan nyata mulai terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Kampus menjadi lebih bersih, kesadaran kolektif tumbuh, dan nilai Islam hadir secara sederhana namun berdampak.
Krisis lingkungan pada hakikatnya bukan hanya persoalan ekologis, tetapi juga krisis iman dan kemanusiaan. Kerusakan bumi mencerminkan terputusnya tanggung jawab spiritual manusia terhadap ciptaan Tuhan. Ekoteologi menghubungkan nilai amanah, keadilan, dan kepedulian dengan tindakan nyata merawat bumi. Pendekatan ini menjadikan kepedulian ekologis sebagai bagian integral dari praktik keimanan.
Perubahan besar dapat berawal dari tindakan kecil yang konsisten. Mengurangi sampah, merawat ruang hijau, dan membangun kesadaran lingkungan adalah kontribusi nyata. Tindakan sederhana tersebut merupakan praktik spiritual yang menghadirkan nilai ibadah dalam kehidupan sehari-hari. Kesunyian aksi ekologis justru menegaskan makna iman melalui kebermanfaatannya bagi kehidupan.
Pada akhirnya, aksi kecil hari ini adalah harapan besar bagi bumi di masa depan. Islam Berkemajuan tidak berhenti pada wacana, tetapi hadir sebagai gerakan nyata yang merawat kehidupan. Langkah sederhana yang dilandasi iman menjadi benih perubahan yang berkelanjutan. Dari sinilah masa depan yang lestari, adil, dan bermartabat bagi seluruh ciptaan dapat diwujudkan.
