![]() |
| Penulis : Dhevaiz Qalbutama R. (Ketua Bidang KPK PK IMM Al-Birr FAI Unismuh Makassar) |
Enam dekade menanam benih, 62 tahun sudah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah berdiri sebagai pilar intelektual muda persyarikatan. Di usia yang semakin matang ini, IMM bukan sekadar organisasi massa, melainkan laboratorium tempat bertemunya Religiusitas, Intelektualitas, dan Humanitas.
Dalam berbagai kesempatan, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menekankan bahwa tantangan masa depan menuntut kader IMM untuk tidak berhenti pada romantisme sejarah.
“IMM masa depan harus menjadi kekuatan transformatif yang mampu mengintegrasikan kedalaman ilmu pengetahuan dengan keluhuran akhlak. Kader IMM tidak boleh gagap menghadapi perubahan zaman; kalian harus menjadi subjek yang memberi warna pada arah peradaban, bukan sekadar objek yang terseret arus.” ucap Haedar Nashir.
Untuk menerjemahkan visi “IMM Masa Depan” yang dicanangkan oleh Ayahanda Haedar Nashir, setiap kader tidak boleh lagi terjebak dalam rutinitas formalitas organisasi. Diperlukan langkah konkret untuk mengasah tiga pilar strategis.
Keunggulan Intelektual: Melampaui Menara Gading
Kader IMM masa depan harus mampu memposisikan diri sebagai produsen ilmu pengetahuan, bukan sekadar konsumen ide. Keunggulan intelektual tidak lagi diukur dari seberapa fasih kita berdebat, melainkan dari sejauh mana riset dan pemikiran mampu melahirkan solusi nyata bagi problematika kemanusiaan. Di tengah krisis ekologi, ketimpangan sosial, dan tantangan etik kecerdasan buatan, kader IMM dituntut hadir dengan karya nyata yang memadukan kedalaman spiritualitas dengan ketajaman nalar kritis untuk memuliakan harkat manusia.
Kekuatan Literasi Digital: Dakwah Tanpa Batas
Dunia digital adalah medan dakwah baru yang tidak boleh ditinggalkan. Menguasai ekosistem teknologi bukan sekadar soal mahir menggunakan gawai, tetapi tentang bagaimana kader IMM mampu mengisi ruang siber dengan konten yang mencerahkan dan inklusif. Dakwah amar ma’ruf nahi munkar di masa depan harus tampil dalam wajah yang segar, kreatif, dan berbasis data. Dengan literasi digital yang kuat, kader IMM dapat memecah narasi radikalisme serta hoaks, sembari membangun jembatan dialog yang menyejukkan di tengah polarisasi dunia maya.
Kemandirian Bangsa: Berdikari di Kancah Global
Kemandirian bukan hanya slogan politik, melainkan prasyarat bagi kedaulatan sebuah gerakan. IMM masa depan harus mulai membangun ekosistem ekonomi mandiri melalui jiwa kewirausahaan sosial yang kuat. Dengan kemandirian ekonomi, organisasi akan memiliki kebebasan dalam menentukan arah gerak tanpa intervensi pihak luar. Ketika kader IMM telah berdaya secara finansial dan sosial, maka daya tawar (bargaining power) organisasi di tingkat internasional akan semakin diperhitungkan, menjadikan IMM sebagai pemain kunci dalam diplomasi kemanusiaan global.
