Hari Kartini: Restorasi Semangat Kartini dalam Membongkar Bias di Fakultas Teknik

Oleh : Hasriana (Sekretaris Bidang RPK PIKOM IMM FT Unismuh Makassar)

Makassar – Peringatan Hari Kartini setiap 21 April kerap terjebak dalam romantisme seremonial. Perayaan identik dengan lomba busana adat, pawai kebaya, atau kutipan inspiratif di media sosial. Namun, bagi kami yang menghabiskan waktu di lorong laboratorium dan ruang kuliah teknik, makna perjuangan Kartini terasa lebih nyata. Di tengah deru mesin dan diskusi teknis, masih ada “bug” sosial yang perlu diperbaiki secara kolektif.

Menjadi mahasiswi di fakultas teknik adalah pilihan sadar untuk menantang arus. Secara statistik, lingkungan ini masih didominasi laki-laki, baik dari mahasiswa maupun tenaga pengajar. Tantangan yang dihadapi bukan hanya persoalan akademik seperti kalkulus atau laporan praktikum. Lebih dari itu, terdapat bias gender yang mengakar dan sering dianggap sebagai hal yang wajar.

Tekanan tersebut membuat mahasiswi harus bekerja dua kali lebih keras untuk memperoleh kepercayaan yang sama. Setiap capaian sering dipandang sebelah mata, sementara kesalahan kecil diperbesar. Kondisi ini menciptakan beban psikologis yang tidak adil dalam proses belajar. Akibatnya, ruang akademik yang seharusnya objektif justru menjadi arena pembuktian sosial.

Di laboratorium, subjektivitas gender masih sering muncul secara halus. Ketika mahasiswi berhasil menyelesaikan proyek, muncul asumsi bahwa keberhasilan itu bukan murni hasil kerjanya. Sebaliknya, kegagalan sering dikaitkan dengan stereotip lama tentang perempuan di bidang teknik. Pola pikir ini memperkuat stigma yang merugikan dan menghambat perkembangan.

Ketidakadilan juga tampak dalam pembagian peran dalam kerja tim. Mahasiswi sering diarahkan ke tugas administratif seperti dokumentasi dan presentasi. Sementara itu, pekerjaan teknis inti lebih sering diberikan kepada mahasiswa laki-laki. Padahal, esensi teknik adalah pemecahan masalah yang tidak mengenal gender.

Peralatan, mesin, dan perangkat lunak tidak membedakan siapa penggunanya. Semua hanya merespons ketelitian, logika, dan keterampilan yang dimiliki individu. Oleh karena itu, pembatasan peran berdasarkan gender tidak memiliki dasar rasional. Justru hal ini menjadi penghambat dalam membangun tim yang optimal dan inovatif.

Fenomena serupa juga terlihat dalam kehidupan organisasi kemahasiswaan. Peran strategis masih cenderung didominasi laki-laki, sementara perempuan diarahkan ke posisi administratif. Hal ini menjadi ironi yang perlu dikritisi bersama. Terlebih, mahasiswi teknik memiliki kapasitas analitis dan kepemimpinan yang kuat.

Sebagai bagian dari organisasi, mahasiswi telah terbiasa berpikir sistematis dan berbasis data. Kemampuan ini sangat relevan dalam pengambilan keputusan strategis. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya diakui secara setara. Akibatnya, terjadi ketimpangan dalam distribusi peran kepemimpinan.

Tantangan semakin kompleks dengan adanya beban ganda yang harus dihadapi. Mahasiswi dituntut unggul secara akademik sekaligus aktif dalam organisasi. Di luar kampus, masih ada stigma sosial yang melekat terhadap perempuan teknik. Padahal, kombinasi logika dan empati justru menjadi kekuatan penting dalam inovasi.

Dalam konteks abad ke-21, semangat Kartini tidak lagi sebatas akses pendidikan. Lebih dari itu, menyangkut kesetaraan dalam berinovasi dan memimpin. Kesempatan harus diberikan berdasarkan kompetensi, bukan asumsi gender. Lingkungan akademik perlu menjadi ruang yang aman dan inklusif bagi semua.

Fakultas teknik harus menjadi tempat tumbuhnya keberanian untuk bereksperimen. Setiap individu berhak belajar tanpa tekanan stereotip. Kegagalan harus dipandang sebagai bagian dari proses, bukan sebagai pembenaran prasangka. Inilah fondasi penting dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang sehat.

Kemajuan teknologi bangsa tidak akan optimal jika setengah potensinya terhambat. Bias gender adalah “beton” yang menghalangi lahirnya inovasi terbaik. Padahal, keberagaman perspektif merupakan kunci utama dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Kolaborasi yang setara akan menghasilkan solusi yang lebih komprehensif.

Momentum Hari Kartini seharusnya menjadi refleksi kolektif untuk perubahan. Ini adalah waktu yang tepat untuk melakukan “debug” terhadap pola pikir yang usang. Perjuangan belum selesai selama masih ada ketimpangan yang dirasakan. Kesetaraan harus diwujudkan dalam praktik nyata, bukan sekadar simbol.

Sudah saatnya kita membongkar bias yang mengakar dan membangun sistem yang lebih adil. Fakultas teknik harus menjadi ruang di mana kompetensi menjadi satu-satunya ukuran. Dengan demikian, setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang. Inilah langkah nyata menuju masa depan yang lebih inklusif dan berkemajuan.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama